SEKILAS INFO (Wajib Baca)


Oleh: DimasSetyoAji

Duduk di dua pintu, berbaring kering aku terdiam menahan sakit, tak apalah ini hanya sakit biasa, ntar juga sembuh setelah obat ditanganku ini aku minum, gumam aku dalam dalam. Seraya ku pencet tombol On teve kecilku yang sedari malam kumatikan, dan kini kuhidupkan lagi. Sekilas info berita pagi ini, teramat penting dan seakan suasana semakin genting, kutanggalkan obat ini.

Sakitku tak seberapa sakit ibu pertiwi, luas wilayah darat sekitar hampir 2juta kilo meter persegipun tidak cukup menghasilkan pangan murah untuk anak-anaknya, sehingga tidak ada swasembada pangan dan harus impor dari lain negara, bengis memang mafia paras pujangga, yang manis duduk di atas singgasana.

Angin memang membawa kedamaian, begitu juga air yang mambawa ketenangan, ombak menjulurkan lidahnya jauh ketepian namun apalah daya bagi para nelayan. Sulut nyala apinya membara tak kunjung padam, ia (baca: Nelayan) kukuh pendirian melaju diantara puing ombak bak lidah yang bisa kapan saja dengan mudah melahap, disertai alat yang tak memadai ia (baca: Nelayan) seakan berjuang sendiri, berkeliling di 3juta kilometer persegi lautan yang sudah digadang-gadang

menjadi poros maritim sebagi wujud eksistensi, namun ironi kian hari nelayan tak punya sandaran menangkap ikan, bahkan malangnya ia (baca: Nelayan) bertemu dengan ribuan kapal penangkan ikan negara lain yang membawa ber set-set alat tempur penangkan ikan, dihatinya seperti apa wujud sampan, (sampan: kecil, tak ada alat tempur ikan). Kupikir ini adalah kesenjangan sosial nelayan tanpa sandaran, Keji!

Melongok pasar yang terbanjiri produk bukan dalam negeri, kini aku duduk kian menggigil, ngeri.
Andaikata bisa ku koyak semua aset dalam negeri dari tangan mafia produksi, pasti akan ku sodorkan kertas-kertas bermaterei untuk para penyokong produk dalam negeri, agar tumbuh rasa cinta akan potensi sendiri. Kini bagiku kecubung bermata hitam (baca: batu akik) lebih berharga dari batu zamrud asal yaman. Dukung produk negeri sebagi eksistensi jati diri.

Terlihat terik mentari sengati wajah petani, merah sudah rinai wajahku kala aku amati, malu aku.
Saat kau tinggalkan sisa nasi di atas piring kramik, disitulah aku mulai merasa panik, melihat sanak petani habiskan peluh demi sebutir nasi diatas air lumpur yang sesekali keruh.

Itulah nampak wajah alam kita dari sekilas info, memang hanya sekilas namun begitu meninggalkan bekas, 2juta kilo meter persegi daratan kitapun tak ayanya menghasilkan pangan, bahkan milyaran ikan diantara 3juta kilo meterpersegi lautan kita tak bisa makan.

Itulah sebab kita harus naik kepuncak gunung, agar mata kita melihat saudara kita yang sedang menahan lapar dan derita, mungkin sesekali memang mata harus tertuju pada bentangan alam yang bernilai seribu agar kita tau alam sudah lelah menanggung anak cucu ibu (baca: pertiwi), dan mungkin kini ia (baca: Alam) tak mampu lagi berdiri dengan 5juta kilometer persegi untuk menghidupi ibu pertiwi, Ironi!

Dan pula aku seharusnya bangkit, bukan seperti ini, diam sendiri di temani rasa nyeri, aku memang Ironi! (Baca: Menyalahkan Diri Sendiri!!)

‪#‎sayangialam‬
‪#‎manfaatkan‬
‪#‎lestarikan‬!
‪#‎jangan‬ ‪#‎terus‬ ‪#‎eksploitasi‬ ‪#‎besarbesaran‬

Penulis : Dimas Setyo Aji

Bawana Angkatan XXI

Ketua Bawana 2013-2014

 

0 Response to "SEKILAS INFO (Wajib Baca)"