CERITA DEWASA #Renungan

Pada kota wilayah setempat, berdiri di ujung halte aku meniti.
Lalu lalang kendaraan tiada kian henti, seketika aku lihat ibu-ibu yang duduk dengan pongahnya ditepian jalan nan bising ini, di tanganya masih mencengkeram sebungkus teh hangat yang kian waktu semakin dingin, sambil ku teguk lagi sedikit kopiku yang juga mulai dingin oleh aroma dingin angin kota ini. Sejenak ku saksikan inilah Konflik Sosial, seberapa orang yang lalu lalang tak satupun singgah menghampiri ibu yang malang, Ohh tidakk..

Gila, akupun ditelanjangi dengan rasa hina, inilah negeri tercinta yang akhirnya meninggalkan rakyat penuh sengan derita.
Tak seharusnya negeri ini dilanda bencana, kering keronta kehabisan sumberdaya.
"pak karno pasti nangis, nangis" kalimat itu terlintas seketika, bagaimana tidak? dulu dia yang membela kita dari campur tangan asing.
Keramah tamahan ini semakin habis, alampun mulai enggan menyibakkan pelangi, apalagi tanah yang enggan untuk berdusta lagi.

Ilmu alam pernah berkata, pelangi terjadi karena cahaya yang membias pada pantulan air hujan, tapi kini hujan berdusta "hujan kini tidak terus terang", kala pelangi rindu hujan dan hujan datang maka setitiknya adalah bencana, Banjir.
"ekologi semakin rusak" tamparan keras membuatku tersengal saat ku mulai teguk lagi secangkir kopi ini.

Kini ukiran bambu runcing tak sanggup singkirkan bedebah nusantara, hanya segelintir pemuda berjiwa nusantara yang bergema bergerilya, membungkan kaki tangan asing dan mencengkeram jarinya penuh geram. Bagaimana tidak kini peluru tajam menembus dada para pemuda indonesia untuk menjadi jiwa yang manja. Akupun begitu, terus bergema gerilya lewat tulisan atau lisan agar mereka sadar bahwa peluru itu memang tajam. Mereka (sebut saja asing --red) melumpuhkan semua pemuda yang sejatinya adalah tunas bangsa untuk dengan mudah mengeksploitasi
sumberdaya, sawit, kertas, timah, minyak, batubara, sampai sampai Emas dan Uranium mereka habisi dengan cara eksploitasi. Kejam!

Membahas soal Uranium yang harganya berlipat-lipat dari harga emas, mereka dengan mudah menggantikan gunung Tembaga (dalam judul buku lama mereka --red) menjadi danau Uranium (sekarang --red), yang diantaranya terdapat segudang emas. Tak lazim, negeri yang dulunya kaya dan penuh semangat membara untuk merdeka ternyata sekarang hanya derita semata, mana pak Karno mana pak Harto (lagi --red) ??

Hasil tambang sejak 1967 hingga hingga sekarang 2015 sekitar 750 juta Ton Emas, dan masih ada beberapa ribu Ton Tembaga, serta berton-ton Uranium mereka bawa keluar sana (anggap saja asing --red). Secara matematis penduduk indonesia dari usia dini maupun lanjut usia sekitar 250 juta, jika emas dibagi sama rata maka perkepala mendapat 3 Ton emas, dan sisanya digunakan untuk proses produksi, maka ironis sekali saat ini. Mungkin ini kenapa Belanda terus mengungkung pulau papua hingga terjadinya perebutan irianjaya oleh presiden kedua, emas, uranium dan gunung tembaga!

Kini dibalik semua, rusak sudah rimba raya, susah sudah rakyat jelata. Yang aku ingin hanya pemuda yang bangkit dan berdiri di kaki sendiri bukan hidup dari kaki tangan ini (sebut saja Asing --red), bermain gitar dijalan hanya kesenangan belaka bukan karena sebagai bentuk kerja, duduk di tepian jalan mencari angin bukan karena ratapan derita. Itu yang aku impi!

Sudahlah, mungkin mereka sudah menutup mata (sebut saja pemuda indonesia --red), sesaat ku habiskan perlahan kopiku dan beranjak pulang.

‪#‎indonesia‬
‪#‎pemuda‬
‪#‎gema‬
‪#‎Gerilya‬

Penulis : Dimas Setyo Aji

Bawana Angkatan XXI

Ketua Bawana 2013-2014

 

0 Response to "CERITA DEWASA #Renungan"