FROM ZERO TO HERO by Dimas S.A.

Kenteng Songo Merbabu - Pendakian Perdana BAWANA XX-XXI 2013


Kosakata yang aku tuang dalam rima tak bermakna terkena luka akibat asa, Hujan turun tiba-tiba saat aku tengah dalam perjalanan pulang dari sekolah seusai petang, seperti tak peduli hujan, aku kayuh terus sepeda seakan berkejaran dengan turunya hujan, sambil ku seka erat nafas yang terengah-engah terbayang akan wajah ku yang berwarna putih keabu-abuan pada kubangan air.

ketika langit terus-menerus menghujani sekujur tubuhku yang mulai terasa dingin dan menggigil ini aku merasa semakin terhempas jauh lepas mengikuti bayangan angin dingin kota ini. Aku kosong, seakan tak berdaya untuk meraih segala cita yang aku damba di atas awan-awan, aku hilang kendali tapi apa daya aku harus kayuh terus sepedaku diatas aspal yang seakan mulai mengejek atas apa yang sekarang aku fikirkan.

From Zero To Hero, semakin deras langit menghujani ku dengan sejuta buih semakin semangat pula aku dalam menyusun langkah demi langkah menuju tahta cita-cita seperti halnya bambu yang kering keronta yang menyusun akar demi akar untuk terciptanya sebuah tunas, aku berdaya.

Petang itu aku pulang membawa nama yang tak pernah aku sangka-sangka sebuah pikulan tanggung jawab menjadi seorang Ketua BAWANA, aku bangga diantara seribu nestapa yang aku punya, aku bisa diantara sayapku yang seakan tak berdaya, BAWANA. From Zero To Hero, aku terlepas kendali dan kini aku harus menjadi pengendali untuk siswa baru yang butuh keluar dari sosok biru keabu-abuan.

Aku tak mampu, sajak sajak yang membuatku diam sejuta bahasa. Bak air yang mengalir kini aku harus menjadi mata air, guna mengaliri keseluruh penjuru waktu, aku tahu itu tapi tak semena-mena aku mampu jalani setiap waktu. Aku tahu. Sebelum ini aku bosan untuk berkata-kata, yah hanya sajak pendek yang ku tuang diantara tumpukan pelajaran sekolah yang seakan penjara bagi aku dan kehidupaku. Aku bosan.

Menghadang segala keterbatasan dan aku mulai berbalik arah ke arah kebebasan, menempati posisi diatas rimba alam dan pencintanya yang terlihat langsung oleh Penciptanya, namun aku tak punya banyak air untuk ku alirkan kepada adik-adik yang kudidik sekarang ini. Seakan tumburan keras masuk di telinga kananku, Alam, Alam, Alam. Yap, alam aku merasa dekat denganya sejuta ilmu bisa kudapat darinya. Aku terkejut saat memori otakku mengarah ke hujan yang lebat, aku terperangah, Hujan ??

Alam, Alam, Alam, lagi-lagi alam mengajariku untuk tumbuh. Aku diajarinya memadamkan bara api cita-cita dengan hujanya, aku berontak dengan pemadaman atas bara yang aku sulut untuk cita-cita, namun setelah ia berhasil padamkan bara itu ia Alam mengajariku untuk menyusun dan menumbuhkan sejuta akar untuk menciptakan sebuah tunas yang aku sebut Cita-cita dengan buih-buih air hujanya

Aku terperangah, ternyata Alam justru lebih "Melihat Matahari Lebih Dulu" di banding aku, ia mengajariku lebih dari yang aku tahu, ia turunkan hujan padamkan sejuta bara menyala, dan iapun turunkan hujan untuk menyemai sejuta akar baru sebagai pondasi atas cita-citaku agar esok citaku berdiri tegap karena ditompang oleh jutaan akar

Oleh hidup ini aku ajarkan kepada mereka agar tak banyak bicara mengenai cita-cita, agar tak banyak membuat bara demi tercapainya cita-cita, karena seperti Alam mengatakan padaku bara hanya sesaat setelah itu ia akan menjadi batu bahkan abu, namun mengenai cita-cita maka bertanyalah pada dirimu sendiri ditengah suasana dingin dan mengigil, WHO AM I ? Siapa aku ?

Coba tanyakan!

Maka begitulah setidaknya alam mengajariku, untuk mencapai cita-cita cukup dengan bertanya pada jiwa mu yang hampa itu, setelah itu semailah akarmu karena akar itu sesaat setelah itu ia akan menjadi batang daun bahkan buah, dan apakah kau tau akarmu ??

Itu adalah dirimu, semailah, didiklah, dan tanyalah kepada akarmu yaitu jiwa yang selalu haus akan semua itu darimu, maka itulah akar yang akan menopangmu.

Kini tugasku hampir usai, takterasa sudah cukup aku luangkan waktu guna mengaliri air ke penjuru waktu dan Kamu, kini tibalah Tugasmu, demikian dengan aku yang akan kembali di antara rumpun Bambu untuk belajar demi terciptanya lembaran hidupku yang baru smile emoticon
Dirimu, Dirimu, Dirimu
Alam, Alam, Alam
Selamat berjuang!
Sahabat Alam!

*menyambut ujian nasional bagi senior-senior bawana, dan tinggalah kalian pengurus-pengurus dengan jiwa yang masih muda*



Dimas Setyo Aji

Bawana Angkatan XXI

Ketua Bawana 2013-2014

 

0 Response to "FROM ZERO TO HERO by Dimas S.A."