AKAR DAUN

Akar daun, kini rontamu penuhi bising kota yang terik nan kejam. Sayang beribu sayang namun suaramu tak terdengar oleh mereka yang hampir tergelincir mengejar gemerlap dunia yang semu itu.
Demi nafasmu yang sendu itu ingin aku dendangkan lagu tentang alam yang lusuh kepada mereka dan menembus jiwa-jiwa hampa mereka. Entah apa yang mereka fikirkan tentang perbuatanya merusak engkau tangan tuhan. Alam uluran kasih yang tulus berbanding beribu-ribu kali atas semua makna surga dan neraka. Alam tangan tuhan misi penyampaian hingga ke ujung dunia memberi isyarat kepada berjuta ummat manusia.
Entaah, mereka tak akan mengerti untuk sekali lagi peringatan Tuhan melalui tangan-Nya.
Sebut saja air, api, udara, bahkkan tanah yang subur memenuhi setiap lereng perbukitan di pelosok tanah air ini, mereka bernyawa bergeliak melihat tingkah laku jutaan cucu adam menjilat ludah dimukanya. Alam tak diam ia murka atas izin Rabbnya. Ia buat banjir dimana-mana, ia hujan yang tak terhingga rinainya, membuat gemetar ia dengan petirnya.
Namun meraka yang tak kunjung memahami tanda-tanda kuasa-Nya.
Alam tangan Tuhan atas segala makna surga dan neraka Nya, Alam indahnya masih tak sebanding indahnya surga, Alam murkanya tak sebanding murka batuan panas neraka yang bergejolak atas kehendak-Nya. Belum cukupkah untuk mensyukuri nikmat-nikmat gambaran surga bagi pemujanya ?
Belum mengertikah kita akan semua teguran lewat tangan mungil yang murka atas semua dosa-dosa kita ?
Cobalah mengerti akan hidupnya, dengarkanlah akar dan jeritanya. Derita akar pencari air di tanah dunia penuh nestapa manusia tak bergunaa perombak hutan belantara, akar yang bicara memohon agar manusia binasa, akar masih berharap daun tumbuh berkembang agar mereka bisa menatap mentari yang teramat terang, bukan sperti sekarang manusia yang merusak mengusik berisik.
Daamn!, matanya melototi kearah dua bola mata kita yang tak henti nikmati alam ini dan biarkan akar daun itu mati.
Pendaki bullshit, omong kosong !
Kau pilih disana pohon besar berakar rindang dan kau berteduh diantara dera hujan tapi acuh akan celotehnya, daki puncak kau biarkan semua keluhan dedaunan sepanjang perjalanan, namun kau pandang dengan senyuman semua awan putih yang cantik nan lentik yang tak beri kau keteduhan tapi hujan beserta malang dan kedinginan.
Pendaki Bullshit! Angkuhnya kau berjalan menginjak injak akar yang tersusun rapi yang masih berjuang hidup demi mendaki awan yang tak kunjung penuhi kebutuhan, kau pendaki beserta kemalangan.
Roda kompas seakan jantung buatnya, yang mengatur nafas seiring putaranya mengatur arah angin, ia berdetak.
Namun waktu bukanlah itu, ia tunggui lagu ini berhenti dan ia akan mati. Aku kagum padamu AKAR
"Berbaris rapi kau mengitari selaksa dunia, jasamu mati bersama tanah tempatmu berada, Akar pemilik jasa sederhana bagi berjuata ummat manusia"
AKAR, aku yang tak pernah melihatmu hingga engkau mati. Aku yang masih berharap akan kenakan lencana jasa ini dipundakmu.
Akar kini mati, tinggalah daun yang masih meratap ke arah Rabbnya dan menunggu layu untuk menjemputnya di akhir waktu. -AKAR DAUN-
"Sungguh aku mengerti bahwa alam tetap hidup, dan aku dapati banyak pelajaran suci dari setiap sisi yang alam coba beri dan benamkan pada hati ini"
Maka bagi kita pelajarilah semua ini, seperti AKAR yang terus mencari sumber kehidupan (Air) hingga menembus celah batuan. 
BY : Dimas Setyo Aji
Ketua Bawana XXI

0 Response to "AKAR DAUN"