Aku dan Dia di Atas Mimpi - Mimpi "HBD Gie"

"AKU DAN DIA DIATAS MIMPI-MIMPI"

Halimun pagi bersama dingin angin turun bersama menyusuri puncak joggringseloko menghembus jasad beku membiru, Sho Hok Gie aku melihat arus-arus muda semangat bergerilya di senyummu yang biru itu.

Semeru 16 desember 1969 semakin dingin, sore semakin mencekam, semeru saksi bisu. Anak muda pendulang tentara tak beruang, Sho Hok Gie.
Menceritakan kembali kisah bersama titipan terahirmu, batu kerikil dan daun cemara puncak tertinggi jawa untuk teman-teman sekelas kita, alam dan pecintanya. Pecinta dan kebusukanya.
Mati muda itu kamu pilih di catatan halusinasi biru buku harian Catatan Seorang Demonstran

"nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."

karya, kritis, konsisten, ketegaran, keikhlasan, keterbukaan, kau..
Berujung kematian.
Bisumu tak selantang aku, lantangmu aku jauh tertinggal, Gie.
Sepeti itulah denyut jantungku saat ku ambil pena menulis lirik kehidupan jelata yang tak pantas dibaca terus tertindas. Namun tak tertutup kabut tebal nan dingin dinding hati ini, Kamu inspirasi tokoh Aku, terus berjuang demi belantara nusantara. Hidup di kehidupan bersajak syair tentang hati yang khawatir.
Kadang aku merasa letih untuk pijakan kaki didunia melukis cerita pagi buta, aku ini kecil nian orang tak punya lemah ekonomi tak berdaya. Hidup tak bahagia mati tak berguna secerca bisikan mulut rongga hati yang mulai terbuka, tak lelah ku daki semakin dalam menyusuri rongga gua hati terbuat dari tangan tuhan nan suci, berharap masih ada serpihan harapan keemasan bersama doa kesederhanaan yang tuhan selipkan diatas bangku tersusun rapi di atas meja kehidupan. Aku aku tak diam dalam keterbatasan, aku berusaha olah setiap kemampuan, kecerdasan penuh keterbatasan yang terpendam dalam.

kekuatan bersama sepeda kayuhan bercerca harapan bersama dua tiga teman berkayuh di tengah hamparan kota tak berkeadilan, diamku tak seperti yoga, terlalu lantang sorakan kritkan bak seorang demonstran, lalu aku berjalan entah apa yang aku pikirkan, masuk lorong masuk kedalam menuju syair di tengah pasir pantai selatan. Meraih poin poin kehidupan aku tak sekuat candra toha bersama trophy kejuaraan yang mengajari aku berpijak dalam tatanan disiplin kehidupan. Tak semudah itu aku susuri jalanan mendaki turuni lembah kehidupan fana seperti padang safana bergejolak luas terpampang terang aku butuh petunjuk jalan setapak hari-hari bertanya kepada edi rahma sang potters hari berkali naik turun bukit kibarkan bendera kebanggan diatas palung liar nan cadas mempesona,
terkesan memilukan rinai wajah hari-hariku tak terang tanpa cahaya sinar hati keibu-ibuan nattaya tika, berdua tuntun tangan ini untuk terus pada dada kehausan, aku terkesan teringat ibuku yang sudah kesurga tinggalkan aku bersama rinai kehidupan. Kuat ku tak kuat sperti kaki-kaki langkah kehidupan diatas gemerlap ketidakadilan gema lagi bumi merintih aku tak sekuat windi menyaksikan keterpurukan ini.
Bersama angin bawa kesejukan bertapa keterbatasan bersemangat juang aku berkaca dalam kamu sinin tonggak keemasan pastilah kau dapati di sanubari dalam-dalam otak cemerlang bersiaplah kamu melanjutkan pendidikan, liahtlah aku tak seberuntung kau otak ekonomi pas-pasan mustahil mendapat sepotong bangku perkuliahan.
Pintu pagi tergambar potretku kaku tak bisa seriang kalian pras aji, tersenyum tak sekuat senyumanmu rijeki. Bawa alunan indah dikala kau hibur aku dengan gitar dan petikan syahdu bertambat rindua kalian berdua janaur alif. Terus petik lah gitar seraya aku susuri rongga hati ini.
Seperti budi menyusuri jawa sumatra seakan detak kerinduan kampung halaman jelas terlihat di matanya.
Sepertinya akan kusudahi langkah yang hampir langkah terakhirku ini namun terimakasih muslim kau ajari aku cara berdoa agar tuhan cepat kabulkan jalan.

Aku mulai bangkit ku langkahkan kaki teringat pesan terakhirmu Kerikil dan Daun cemara hijau untuk aku. Coba kuraih gulungan kertas putih bersih diantara ronggah hati yang tersisih tertulis tinta keemasan pertanda nasib baik tersimpan jelas, tertuang disana kata-kata tuhan yang tak aku mengerti, namu setelah aku bertemu kalian, BAWANA, sinin, Yoga, Pras, Mustika, Candra, edi, Toha, Rahma, Windi, rijeki, muslim, Nattaya, budi, Alif, Januar, aji. Terimakasih kalian semua telah mengajari aku menjadi seorang pemimpin layaknya Sho Hok Gie, mengantar kalian hingga puncak joggringseloko itu impian
trimakasih juga kakak-kakak yang telah memberi tak harap kembali pada diri ini

Juga Sho Hok Gie, kau pancarkan auramu kepadaku bersama 'Batu Kerikil dan Daun Cemara' filosofi kecil bahwa
"Hiduplah kau secadas mungkin, berasal dari bawah dan terinjak, semantara kau naik dua jengkal jadilah kau daun memberi keteduhan bagi kaum yang tertindas"
begitu kiranya yang dpt aku artikan sebagi pedoman sederhana.

Selamat Ulang Tahun Gie,
( Djakarta 17 Desember 1942 - Semeru 16 Desember 1969 )


Dimas Setyo Aji

Bawana Angkatan XXI

Ketua Bawana 2013-2014

 

0 Response to "Aku dan Dia di Atas Mimpi - Mimpi "HBD Gie""