Walhi Serius Tanggapi Isu Climate Change Pasca COP 15 Copenhagen

Para aktivis berdiskusi menanggapi hasil COP 15 Copenhagen di kantor Walhi, Jakarta, Selasa (29/12/2009)

Laporan wartawan SERAMBI INDONESIA M Anshar

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menanggapai serius hasil Conference of the Parties (COP) 15 UNFCCC di kantor Walhi, Jalan Tegal Parang Utara 14, Mampang, Jakarta, Selasa (29/12/2009). Diskusi dihadiri para aktivis pecinta lingkungan, NGO, dan media cetak.

Diskusi membahas perubahan iklim yang saat ini menjadi pembicaraan serius. Beberapa masalah yang dibahas, antara lain, ketimpangan dalam memahami perubahan iklim yang kini sedang terjadi di berbagai elemen civil society.

"Dibutuhkan kesepahaman antara berbagai pihak, terlebih lagi bahwa pertemuan Kopenhagen (UNFCC) tidak menghasilkan apa-apa terkait dengan permasalahan perubahan iklim," ujar Berry dari Walhi.

Dikatakan, Indonesia tidak boleh terjebak terhadap isu-isu yang berkembang di luar. Indonesia harus yakin dengan apa yang sudah dilakukan dan mendorong ini sebagai jawaban sekaligus kontribusi atas persoalan iklim, melalui inisiatif lokal.

Aktivis Serikat Hijau Indonesia Bidang Politik dan Ekonomi, Khalisah Khalid, mengatakan, basis ekonomi yang digunakan pemerintah adalah paham neoribelarism yang justru berkontribusi besar terhadap pengrusakan lingkungan hidup.

"Kita harus mengubah sistem ini, seperti sistem yang sudah ada sebelumnya di berbagai negara dan daerah-daerah Indonesia yang lebih berperan. Misalnya, menolak pembangunan mal," ucap wanita yang biasa disapa Alin ini.

Fajar dari Antara menambahkan, harapan besar ada pada Kopenhagen dan ini momen yang sangat tepat. Dan ternyata hasilnya hanya kesepakatan-kesepakatan politik.

"Sayangnya, peran dari Presiden RI sangat kecil (pasif). Seharusnya Indonesia dapat berperan lebih aktif lagi karena kita negara berkembang, kita punya banyak peran-peran strategis," ucap Fajar.

Riza Damanik dari Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) memberikan laporannya ketika mengikuti COP 15 Copenhagen lalu. Pertama, negara-negara industri benar-benar mengorganisasi diri untuk menguasai forum. Sementara negara dunia ketiga seolah-olah memposisikan dirinya sebagai negara industri.

"Forum ini memang sejak awal di-setting untuk negara-negara industri," ucap Riza.

Kedua, pada pidatonya SBY tidak menyebutkan masalah masyarakat adat, kepunahan hutan, bahwa laut itu penting pun tidak disentuh, bahwa Indonesia adalah Negara yang besar dan bebas.

"Jadi, kehadiran SBY di sana tidak memberikan kontribusi, begitu juga pada pertemuan APEC," ucap Riza.

Yang menjadi implikasi untuk Indonesia saat ini adalah Cop 15 Copenhagen berarti gagal bagaikan nasi yang sudah menjadi bubur.

Dari pertemuan yang diadakan Walhi tersebut disimpulkan, Climate Change hanya sebuah jebakan yang dibangun kaum Neo Liberalisme untuk terus mengeruk Sumber Daya Alam negara-negara berkembang.

Solusi yang terbaik adalah Kepala Negara harus meminta maaf kepada masyarakat melalui forum resmi DPR/MPR, mengganti sistem pemerintahan secara fundamental.

Sumber : Kompas.com

0 Response to "Walhi Serius Tanggapi Isu Climate Change Pasca COP 15 Copenhagen"