TATA LAKSANA SURVEY SISTEM GUA


Gua karst biasanya tidak berdiri sendiri, tetapi hampir senantiasa membentuk suatu jaringan percelahan, rekahan, perguaan yang saling berhubungan melalui suatu aliran sungai bawah tanah (dinamakan gua aktif) atau melalui lorong-lorong yang kering (dinamakan gua fosil) secara terputus-putus.
Sebelum melakukan survey, tentukan dulu apa tujuannya. Apakah untuk kegiatan olahraga caving, petualangan, mengumpulkan data untuk wisata gua, mencari air bawah tanah yang sangat dibutuhkan rakyat setempat, penelitian biospeleologi, sedimentologi, speleogenesis, mikrosistem gua, menentukan langkah-langkah pencagaran (konservasi), dan lain sebagianya. Kesemuanya ini tanpa kecuali membutuhkan persiapan yang matang, perlengkapan memadai, keterampilan yang sesuai dengan derajat kesulitan gua dan penguasaan teknik pemetaan gua.


Persiapan yang wajib dilakukan :
1. Kumpulkan data daerah yang akan dikunjungi melalui literatur / publikasi / peta-peta perjalanan, geologi, topografi karst, hidrologi, data mengenai iklim (curah hujan), kebudayaan, etnologi, flora, fauna, vegetasi kawasan tadah hujannya, ekologi, agronomi, sejarah, kebudayaan setempat, termasuk dongeng rakyat khususnya mengenai sumber air dan gua-gua.
2. Dalam peta geologi dan topografi (minimal 1 : 50.000), pelajari kawasan mana yang berbatu gamping dan menunjukkan fenomena karst, seperti dolina, uvala, lembah karst, sungai permukaan yang hilang timbul, bukit-bukit karst, dsb.
3. Buat proposal yang baik dengan uraian rinci mengenai maksud, tujuan, perlengkapan yang dibawa, metoda survey, biodata personil dan pengalaman masing-masing dalam eksplorasi gua, acuan literatur, lamanya survey, dana yang dibutuhkan, alamat lengkap, nomor telepon dan surat rekomendasi dari induk organisasi dan kepala sekolah / dekan / rektor.
4. Bila dirasakan perlu, kirimkan data tersebut ke HIKESPI (Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia) guna mendapat petunjuk dan surat rekomendasi untuk aparat pemberi ijin setempat. HIKESPI antara lain dapat memberi petunjuk kawasan mana yang pernah di-survey, oleh kelompok mana, kapan dan apakah sudah ada peta-peta gua. Hal ini penting, agar tidak terjadi duplikasi survey.
5. Pada saat tiba di lokasi, hubungi pejabat Diparda / Bappeda setempat. Jangan lupa mengunjungi sarana-prasarana kesehatan dan komunikasi setempat yang pasti dibutuhkan bila terjadi musibah.
6. Lapor kepada Kepala Desa setempat dan bila mungkin minta ijin menginap di desa terdekat. Penduduk setempat adalah orang yang paling tepat memberi informasi perihal keberadaan gua-gua. Serahkan kepada penduduk daftar nama, alamat, nomor telepon yang perlu dihubungi bila ada musibah. Jelaskan masuk jam berapa dan keluar jam berapa. Bila perlu minta bantuan penduduk untuk memasakkan makanan kita dengan imbalan uang.
7. Laksanakan survey secara terpadu. Jangan puas dengan hanya satu gua saja, tetapi carilah hubungan antara satu gua dengan yang lain, sehingga terungkap suatu sistem perguaan.
8. Setiap selesai survey, lakukan evaluasi secara cermat, kemudian tentukan strategi pelaksanaan untuk esok hari.
9. Peta gua harus dibuat secepatnya di lokasi, supaya diketahui secara tepat lorong atau ruangan mana yang sudah dan yang belum ditelusuri.
10. Bila survey telah selesai seluruhnya, kunjungi semua pihak yang telah membantu untuk mengucapkan terima kasih.

(Dr.R.K.T. Ko/Speleogiwan)

0 Response to "TATA LAKSANA SURVEY SISTEM GUA"