BEBERAPA KIAT MENCEGAH MUSIBAH DALAM GUA

Dalam dunia caving Inggris dan AS ada dua pengertian mengenai musibah
dalam gua, yaitu Incidence, kejadian yang tidak menggembirakan, tetapi tidak
sampai terjadi kematian atau terlukanya penelusur gua, contoh : tersesat, jatuh terpeleset tanpa menyebabkan luka, kelelahan, kehilangan alat-alat SRT, dehidrasi, terjebak air bah dalam gua, terlambat keluar gua dan tidak sesuai kesepakatan sehingga dicari teman-temannya, memasuki gua vertikal tidak menggunakan peralatan yang dipersyaratkan sehingga sulit keluar, dll. Dan Accident, musibah fatal atau berakibat lukanya penelusur gua.

Semua jenis Incidence maupun Accident wajib dilaporkan dalam journal
caving nasional mereka. Dirinci di gua mana, kapan, mengapa terjadi kejadian atau musibah tersebut, berapa orang yang terlibat, derajat keterampilan mereka, bagaimana cara menanggulangi atau mengevakuasi korban, dan akhirnya dianalisa rincian kesalahan dan cara pencegahannya.

BANJIR DALAM GUA
1. Jangan memasuki sistem perguaan pada musim hujan. Pelajari iklim setempat.
2. Perhatikan aliran air dalam gua, apakah berasal dari sungai di atas permukaan tanah? Perhatikan sedimen dasar sungai, bebatuan dari luar (bulat, berwarna abu-abu/hitam) dan lumpur adalah indikasi nyata, aliran air itu jenis vadosa dan berasal dari sungai permukaan. Pada saat hujan deras, sungai dalam gua yang sifatnya numpang lewat, dengan cepat akan meluap. Bila sedimen hanya terdiri dari serpihan, butiran, kerikil berwarna putih kekuningan, tanpa sedikitpun lumpur, berarti sungai dalam gua berasal dari akumulasi air perkolasi, yang terlihat menetes dari setiap ujung bawah stalaktit bawah dan mengaliri flowstone (menyerupai air terjun membeku), gourdam (menyerupai petakan sawah), drapery (menyerupai gorden) dan dinding lorong gua. Air perkolasi lambat responsnya terhadap hujan lebat. Air hujan membutuhkan banyak waktu untuk meresap ke dalam sistem percelahan lapisan batu gamping yang tebal. Sungai bawah tanah yang berasal dari kumpulan air perkolasi, tidak cepat meluap saat hujan di luar gua. Debitnya baru bertambah mungkin setelah 6 sampai 12 jam, meningkatnya juga perlahan-lahan. Tetapi pada umumnya, sungai bawah tanah itu suatu kombinasi antara air vadosa dan air perkolasi. Lakukan analisa mana yang lebih dominan melalui analisa kualitas dan kuantitas sedimen pada dasar sungai dalam gua. Makin banyak lumpur, makin cepat terjadi banjir dalam gua saat hujan lebat. Kemudian perhatikan dinding gua, apakah terlihat "garis lumpur" atau "mud line", yaitu suatu garis berwarna cokelat pada dinding gua yang putih bersih, garis itu adalah tanda batas ketinggian air meluap saat hujan. Perhatikan juga apakah ada aneka jenis sampah atau bagian tumbuhan yang berasal dari luar yang tersangkut pada dinding atau plafon gua. Tersangkutnya kantong plastik, kain, ranting, dan lain-lain di plafon gua berarti bahwa saat banjir, seluruh lorong gua tertutup air sampai plafonnya.
3. Perhatikan topografi kawasan karst, bila didominasi bukit-bukit terjal, maka gua-gua yang biasanya terletak pada dasar cekungan-cekungan di bawah bukit, akan cepat kemasukan air hujan. Bila lokasi gua-gua di Plato (dataran rendah) maka air hujan lebih lambat memasuki interior gua. Kawasan karst sempit, lebih cepat mengalirkan air hujan ke dalam interiornya. Kawasan karst luas, membutuhkan waktu lebih banyak untuk mengalirkan air ke dalam interiornya, walaupun pasti jumlah air hujan yang masuk, akan jauh lebih banyak dari kawasan karst kecil.
4. Perhatikan status vegetasi kawasan tadah hujan. Kalau masih hutan lebat, air hujan akan terikat dulu oleh sistem perakaran, sebelum menetes masuk ke dalam gua. Bila sudah dijadikan ladang, atau sudah ditebang habis hutannya, maka air hujan akan lebih cepat memasuki interior karst.
5. Percayalah pada penduduk setempat, yang memberitahukan bahwa pada musim hujan seluruh atau sebagian gua akan tertutup air.

GAS RACUN
Di Indonesia, yang dimaksudkan dengan gas racun ialah karbon dioksida
(CO2) yang jumlahnya berlebihan, terutama ditemukan dalam lorong-lorong buntu
yang tidak berventilasi. Produksi gas CO2 dalam gua berlanjut terus. Tetesan air perkolasi yang mengandung larutan jenuh zat kapur Ca (HCO3)2, terurai menjadi H20, yang menetes ke alam interior gua, gas CO2 yang berdifusi ke dalam atmosfir gua dan CaCO3 yang mengendap sebagai kalsit/aragonit pembentuk aneka jenis dekorasi gua. Kalau tidak ada ventilasi, maka kandungan CO2 meningkat terus, terutama di balik sifon, ini bahaya terbesar bagi cave divers. CO2 bertambah banyak bila terlihat akar-akar pohon menjuntai dari plafon ke dalam lorong-lorong gua, contoh : gua-gua di sekitar Blora. Juga bertambah banyak bila ada bahan organik yang membusuk dalam gua (dedaunan, ikan-ikan mati, dsb).
Bila saat memasuki sebuah gua kita merasa ragu dan mulai ada gejala hyperventilation (nafas terengah-engah walaupun tidak lelah), kita dapat menyalakan sebuah lilin, bila nyala lilin tersebut mati, secepatnya keluar. Jangan andalkan nyala karbit, karena lampu karbit masih bisa menyala walaupun kandungan CO2nya sudah mematikan. Hati-hati masuk ke dalam gua bila ada kegiatan vulkanik di dekatnya, karena kandungan gas SO2, H2S, NO2, dll, bisa tinggi.
Jangan memasuki gua bila dalam radius 5 km ada kegiatan penambangan
memakai bahan peledak. Gas yang dihasilkan sumbu yang dibakar, bisa meresap rekah celah karst sejauh 5 km lebih dan sifatnya sangat toksis, contoh : di Belgia pernah ada 7 penelusur gua vertikal meninggal karena keracunan gas yang digunakan petambang pada jarak 5 km.
Paling bahaya adalah saat suatu lubang di bawah tanah ditemukan setelah
digali bagian atasnya (misalnya untuk membuat fondasi rumah penduduk). Lubang di kawasan karst yang baru terbuka, sudah pasti tinggi kandungan CO2nya. Kandungan CO2 tinggi dapat dijumpai pula di sumur yang dalam, karena CO2 lebih berat dari udara, sehingga terkumpul pada dasar sumur. Banyak penggali sumur dalam, meninggal karena keracunan CO2.
Radon adalah gas tidak berwarna, tidak tercium, tetapi berbahaya karena
bersifat radioaktif. Gas ini terdapat dalam beberapa gua dengan konsentrasi tinggi, hal mana bisa menyebabkan kanker paru-paru dan lebih mudah menyerang para perokok. Oleh sebab itu seorang perokok sebaiknya jangan melakukan kegiatan caving. Kalaupun ingin melakukannya, jangan memasuki lorong yang pengap dan terlalu lama (sampai berjam-jam) menelusuri gua alam.
Gas racun berbau ialah yang dihasilkan tumpukan guano bercampur air kencing kelelawar. Baunya menyengat karena mengandung gas Ammonia. Bila konsentrasinya tinggi, bisa mematikan manusia yang menghirupnya, tanpa berpengaruh pada kelelawar. Pakailah masker hidung saat menelusuri gua pada malam hari yang banyak kelelawarnya. Bila menderita pusing, mual dan sulit bernafas, segera keluar gua dan hiruplah oksigen dalam tabung kecil secepatnya.

TERSESAT
Gua-gua di Indonesia sedikit cabang-cabangnya. Di Eropa banyak gua yang
cabangnya sampai puluhan. Agar tidak tersesat, senantiasa memetakan gua sambil menelusurinya. Bisa gunakan tali, pasang tumpukan batu atau ranting pada persimpangan. Yang paling tepat, tetapi cukup mahal adalah meletakkan light stick pada persimpangan, terutama bila gua itu bertingkat banyak (multilevel). Setiap sepuluh langkah wajib lihat balik. Aspek gua saat keluar selalu tampak berbeda dengan apa yang dilihat saat memasukinya, lebih-lebih bila bertingkat. Daya orientasi penelusur gua wajib kuat. Jangan lupa membawa cadangan karbit, baterai dan bola lampu secukupnya. Tanpa bantuan cahaya, semua penelusur pasti tersesat.

DEHIDRASI
Penelitian menunjukkan, bahwa saat penelusur gua merasa haus, air minum
tidak akan mencukupi kebutuhan. Minumlah yang banyak sebelum memasuki gua dan
tunggu sampai berkemih sebelum memasukinya. Jangan minum air dalam gua, yang terbukti terkontaminasi semuanya. Air perkolasi dalam gua Petruk (Gombong) terbukti terkontaminasi insektisida DDT. Bawa air minum dalam botol/tempat khusus.

GIGITAN BINATANG BERACUN DALAM GUA
Senantiasa pakai sarung tangan karet speleo/industri kimia dan jangan memasukkan tangan ke dalam lubang atau celah sebelum meneliti apa yang ada
di dalamnya, mungkin saja di dalamnya ada sarang ular atau binatang berbisa lainnya.
Lokasi yang sering dijumpai adanya ular beracun ialah sekitar mulut gua atau perjalanan menuju mulut gua.

KELILIPAN
Jangan remehkan kejadian yang amat mengganggu ini. Pakai selalu kacamata penyelam, saat membor dinding gua untuk pasang rock anchor (bolt).
Juga saat korban musibah diangkut keluar gua, dia harus dipakaikan kacamata penyelam.

HISTOPLASMOSIS
Gua yang dihuni kelelawar dengan banyak guano kering, bisa membahayakan
penelusur gua, bila di dalam guano itu terdapat spora histoplasma capsulatum. Bila terhirup masuk paru-paru, timbullah penyakit histoplasmosis paru-paru. Gejalanya mirip tbc paru-paru, seperti batuk-batuk, demam, pegal-pegal, nafsu makan berkurang, berat badan meyusut cepat. Bila difoto rontgen paru-parunya, maka gambarannya juga sangat mirip tbc. Itu sebabnya, setiap penelusur gua yang batuk-batuk dan demam seminggu setelah menelusur gua ber-guano, pada saat diperiksa seorang dokter, wajib menjelaskan perihal kegiatan caving yang telah dilakukannya. Bila tidak dijelaskan, maka pada umumnya dokter akan mendiagnose tbc paru-paru dan mengobatinya sesuai diagnosa tersebut. Pasien tidak akan sembuh dan akan meninggal dunia. Obat yang tepat ialah suntikan Amphotericin B secara intravenosa. Mencegahnya ialah dengan senantiasa memakai masker hidung (seperti yang digunakan di lingkungan industri berdebu dan yang banyak dipakai sewaktu ada wabah SARS) saat memasuki gua yang banyak guano-nya.

(dr. R.K.T. Ko/HIKESPI)



0 Response to "BEBERAPA KIAT MENCEGAH MUSIBAH DALAM GUA"