Memanjat Tebing, antara Etika dan Gaya


Secara sederhana, etika adalah nilai baik atau buruk sesuatu, ditinjau dari norma yang mengikatnya. Norma yang dimaksud adalah adat istiadat, agama dan kepercayaan, hukum atau perkembangan peradaban itu sendiri.
Royal Robbins, pengarang buku “Basic Rock Craft”, berpendapat bahwa etika panjat tebing adalah aksi yang secara langsung mempengaruhi orang lain dalam komunitas pemanjat. Polemik pertama yang muncul adalah bagaimana seharusnya jalur pemanjatan dibuat.
Opsi pertama berpendapat bahwa sebuah jalur sedapat mungkin dibiarkan seperti aslinya, sehingga setiap pemanjat bisa menikmati hasil karya Sang Pencipta dalam bentuk yang asli. Anggapan seperti ini menuntut pemanjat untuk merintis jalur dengan cara sebagus mungkin atau tidak sama sekali. Meminimalkan penggunaan sesuatu yang sifatnya artificial apalagi meninggalkannya di tebing. Pendapat ini sangat ekstrim. Memanjat dengan cara terbaik seperti ini sangat diinginkan, tetapi apakah semua pemanjat harus dipaksa melakukannya? Apakah semua orang mampu melakukannya? Pendapat lain bertolak belakang dengan paham tadi, bahwa sebuah jalur selayaknya dapat diakses oleh semua orang. Pendapat ini menghalalkan sebuah jalur dirubah. Contohnya membentuk pegangan dengan pukulan hammer.

Faktor lingkungan mempengaruhi perbedaan pandangan seperti ini. Cara memanjat berkembang menjadi sebuah kebiasaan karena adaptasi terhadap kondisi medan (tebing). Karena itulah, cara memanjat antara pemanjat tidak selamanya sama. Perbedaan ini melahirkan bermacam cara memanjat yang biasa disebut gaya memanjat. Gaya memanjat merujuk pada metode pemanjatan, peralatan yang digunakan serta derajat petualangan yang dihadapi. Fakta seperti ini kemudian menggeser pengertian etika menjadi kabur. Karena cara memanjat atau bagaimana seseorang membuat sebuah jalur tergantung dari kebiasaan. Kebiasaan seperti itu lebih pas dikategorikan sebagai sebuah gaya, gaya memanjat (climbing style).

Baik buruknya sebuah gaya memanjat sangat sulit diukur secara pasti. Pemanjat Inggris terkenal sebagai pemanjat bersih (clean climbing), itu karena mereka terbiasa dengan sarana tebing dengan cacat batuan yang banyak, seperti tebing kapur (batu gamping). Kondisi alam seperti ini memungkinkan mereka mencapai puncak-puncak tebing dengan hanya mengandalkan pengaman-pengaman sisip saja. Lain halnya dengan pemanjat Amerika. Mereka terbiasa dengan penggunaan alat-alat artificial, seperti bolt, piton, dan sebagainya. Itu juga karena hasil adaptasi dengan situasi medan yang berbeda. Seperti kita tahu bahwa kawasan pemanjatan yang populer di Amerika, seperti lembah Yosemite adalah kawasan yang terbentuk dari batuan beku yang keras dan minim rekahan. Untuk memanjat di sana diperlukan dukungan segala macam pengaman artificial. Mereka akhirnya akrab dengan gaya artificial (aid climbing). Beda lagi dengan pemanjat dari Perancis, dunia mengenal mereka dengan istilah French Style.
Etika memanjat hanya ada dalam judul wacana. Perdebatan masih terus berlangsung, seiring para pemanjat mengukir prestasi di tebing-tebing baru. Penggunaan berbagai cara dan sistim pemanjatan sifatnya situsional. Tidak selamanya memanjat dengan menggunakan tali penghubung dari dasar (siege tactic) lebih buruk dibanding dengan cara tradisional (big wall) yang secara terus menerus memanjat hingga ke puncak (alpine tactic). Gaya big wall jika diterapkan pada dinding yang kecil justru akan menjadi buruk. Kasusnya sama ketika kita menghamburkan bolt dan sebagainya pada jalur dengan grade yang sangat rendah. Dari segi tantangan, nilai pemanjatannya juga akan sangat buruk. Tetapi sekali lagi, penilaian seperti ini sangat relatif.
Lalu, bagaimana memanjat yang terbaik? Terlepas dari kontroversi tentang etika dan gaya, setiap pemanjat dituntut harus memaksimalkan kemampuannya, tidak pasrah dan selalu tergantung pada peralatan artificial yang nota bene akan menurunkan kualitas pemanjatan. Menurut penulis, cara yang terbaik adalah memanjat dengan se-natural mungkin, dilakukan dengan bantuan teknologi seminimal mungkin. Mulailah dengan meninggalkan kebiasaan menggunakan bolt dan piton. Biasakan untuk menggunakan jammet nut (pengaman sisip) dan pengaman alam yang tersedia, seperti tonjolan atau lubang batuan. Pada puncaknya, pemanjat akan memanjat dengan dirinya sendiri tanpa dukungan pengaman tadi (free soloing). Kuncinya adalah menyesuaikan gaya pemanjatan dengan diri sendiri, kemampuan dengan ambisi. Menurut penulis, begitulah cara memanjat yang terbaik. Mengajarkan kepada kita bahwa memanjat adalah sebuah proses belajar dan belajar.

3 Responses to "Memanjat Tebing, antara Etika dan Gaya"

Anonim mengatakan...

WAH TREKPEN GAYA....AREP DADI CLIMBER POWWW...

Anonim mengatakan...

memanjatlah dengan diri anda....
gaya/teknik anda memanjat akan memperlihatkan siapa diri anda....

omel "Makassar"

Anonim mengatakan...

Yes undoubtedly, in some moments I can phrase that I agree with you, but you may be inasmuch as other options.
to the article there is quiet a question as you did in the go over like a lead balloon a fall in love with publication of this demand www.google.com/ie?as_q=ms windows xp pro corp rtm sp0 2001 pure untouched ?
I noticed the axiom you have in the offing not used. Or you use the pitch-dark methods of helping of the resource. I take a week and do necheg